Antara Pak Pujo dan Bapak Saya

Kami memanggilnya Pak Pujo. Usianya 60 tahun (mungkin lebih, entahlah...). Pak Pujo supir lepas dikantor saya. Bukan supir bos tapi supir yang bertugas mengantar kendaraan baru ke customer. 

Jgn tanya soal berapa gajinya karena beliau tak punya gaji pokok/atau gaji tetap setiap bulannya. Penghasilannya hanya dari OKK alias Order Kirim Kendaraan alias seberapa banyak kendaraan yang beliau kirim hari itu. Jadi setiap Pak Pujo kirim kendaraan ke alamat customer Pak Pujo akan dibuatkan semacam surat keterangan dan surat itulah yang digunakan untuk klaim upah Pak Pujo sehari-hari. Untuk jarak dekat kurang lebih Pak Pujo dibayar 30rb. Itu sudah termasuk makan dan ongkos kembali kekantor karena biasanya pengiriman selanjutnya sudah menunggu.


Siang tadi, Pak Pujo mendatangi saya. Dia pamit. Matanya berkaca-kaca tapi berusaha tetap tegar. Dia bilang masa kerjanya sudah selesai. Dan rasanya tidak memungkinkan bagi perusahaan mempekerjakan dia lagi karena terkait usia beliau.

Meliat mata Pak Pujo berkaca-kaca seperti itu, hati saya trenyuh. Saya tau dia sedih tapi dia berusaha tetap kuat didepan saya. Dia cuma pamit dan minta maaf jika selama bekerja mempunyai kesalahan dalam konteks kami sebagai rekan kerja. 

Pak Pujo pensiun, tapi entah dapat uang pesangon atau tidak karena statusnya hanya pekerja outsource. Dengan pensiunnya beliau, berarti penghasilannya berhenti sementara. Beliau mengatakan bahwa salah satu hal yang memberatkannya adalah beliau masih punya anak yang masih sekolah di timgkat SD. 

Saya melihat Pak Pujo keluar meninggalkan kantor. Mata saya terus menatap dari kejauhan sampai dia menghilang dari pandangan saya. 

Saya membandingkan kondisi Pak Pujo dengan kondisi bapak saya. 

Bapak saya. Usianya sekarang 56 tahun. Baru saja pensiun sebagai PNS Depkumham bulan Juli lalu setelah mengabdi pada negara selama 35 tahun. Menerima bintang Satya Lencana Adhi Karya sebanyak 2x dengan 2 presiden yang berbeda (Gus Dur dan SBY). Uang pensiun tiap bulan yang diterima 75% dari gaji yang ia terima selama masih aktif mejnadi PNS. Masih terdaftar sebagai anggota ASKES sebagai perlindungan jika sakit. Saya sudah bekerja, adik saya masih mencari kerja, dan adik saya yang bungsu kuliah dengan beasiswa. Paling tidak beban orang tua saya tidak terlalu berat.

Sebuah realita yang kontras antara Pak Pujo dan Bapak saya. Dua-duanya sama-sama sedih ketika pensiun menghadang. Tapi alasan kesedihan mereka tentu bertolak belakang. Pak Pujo sedih karena penghasilannya otomatis terhenti sementara, paling tidak ia harus extra kerja keras untuk dapat pekerjaan baru demi anaknya yang masih sekolah. Sedangkan Bapak saya, ia sedih karena harus berpisah dengan rekan-rekannya.

Pak Pujo dan Bapak saya, dua orang lelaki paruh baya yang menikmati masa pensiun dengan kondisi yang berbeda. Tapi apapun itu, life must go on. Semangat harus tetap dijaga karena  hidup tidak berhenti sampai disini. 

Selama hayat masih dikandung badan, mencari rizki dan keridoan Allah adalah tugas kita.

Salam hangat

Komentar

Unknown mengatakan…
It's truly an inspiring topic. It could happen among us.

Postingan Populer