Memutuskan Resign Setelah 20 tahun Berkarir.

Hi moms, mau mulai konsisten nulis lagi nih. Bismillah. Semoga ga angin-anginan lagi 😄

Oke, jadi ceritanya sejak akhir Februari lalu aku resmi resign dari kantor setelah 17 tahun berkarir sebagai Customer Relation. Namun kalau dihitung dari awal bekerja di perusahaan sebelumnya dengan posisi yang sama berarti total 20 tahun. Bekerja dari mulai lulus kuliah di tahun 2003 dan resign di 2023.

Lalu kenapa memutuskan resign?

Nah ini pertanyaan yang banyak banget aku terima mulai dari teman dikantor, atasan, bahkan sampai tetangga-tetangga sekitar rumah. Kalau aku jawab mau jadi Ibu Rumah Tangga alias IRT malah banyak yang ga percaya. Karena menurut mereka selama ini aku tuh orang kantoran banget (apa sih? Hahaa). Tapi ya memang cuma itu alasannya. Karena sebenarnya keinginan resign ini sudah ada sejak aku melahirkan anak pertama. Kalau dulu ya alasannya ga jauh-jauh dari drama soal merawat anak yang masih bayi. Tapi ya keinginan seringkaluitu hilang dan timbul aja. Pada akhirnya sampai bertahun-tahun hanya jadi sekedar wacana.

Apakah aku tidak nyaman diperusahaan tempat aku bekerja? Oh, tentu tidak. Alhamdulillah perusahaan tempatku bekerja cukup membuatku nyaman dalam bekerja dengan segala fasilitas dan kesejahteraan karyawan yang cukup memadai serta lingkungan kerja yang kondusif. Meskipun ada banyak tantangan didalamnya namun tidak pernah membuatku putus asa bahkan memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran. Itulah kenapa, walau wacana resign ini sudah ada sejak lama namun ketika waktunya sudah tiba dan sudah ada di depan mata rasanya malah beraaaaat banget.

Beberapa orang juga mempertanyakan “Ngapain resign sih, kan anak-anak sudah besar. Mau ngapain lagi?”. Nah, justru itu. Justru karena anak-anak sudah bukan balita lagi bahkan salah satu anakku akan masuk ke fase teenager, aku merasa disitulah peranku sebagai orangtua sangat dibutuhkan. Siapa bilang jika anak-anak sudah bukan bayi atau balita lagi lantas tugas kita selesai. Oooh tidak bisa… In my opinion, yang namanya pengasuhan tidak ada batasan waktu. Apalagi anak-anakku laki-laki. Kelak meraka akan jadi kepala rumah tangga dan juga seorang ayah.

Ada juga nih beberapa yang memberikan komentar underestimate yang berusaha mematahkan benteng pertahananku  “Ah palingan awal-awal doang lo betah ngurus rumah, masak, ngurus anak. Ya sekuat-kuatnya 1 bulan lah. Bulan kedua, ketiga dan seterusnya pasti mulai merasa jenuh dan galau. Trus pengen kerja lagi deh”. Hmmm well, ini ga sepenuhnya salah. Jujurly, buat aku yang terbiasa setiap hari bekerja dengan laptop, bikin laporan, bertemu banyak orang dengan beragam karakter, meeting, dll kemudian harus berada di rumah dan menghadapi orang serta pekerjaan yang itu-itu saja. Ada rasa kikuk , mulai kangen pakai baju kerja, kangen suasana kantor, ada rasa baper melihat rekan2 sedang meeting atau gathering dan kadang muncul rasa ga berguna bahkan kadang bertanya pada diri sendiri “aku salah ga sih ambil keputusan ini”. Tapi kemudian aku segera sadar dan aku tanyakan kembali pada diriku “hei, bukankah dlu ini adalah harapan yang selalu ingin kamu segerakan?”.

Aku juga sering menenangkan diriku sendiri. Ga apa-apa kangen sama kantor, kan bisa mampir berkunjung sebentar untuk silaturahmi. It's oke jenuh sama pekerjaan rumah, kan bisa sebentar scroll-scroll sosmed atau nonton Netflix sambil rebahan dikasur sebelum jemput anak sekolah. Ga usah iri dengan rekan-rekanmu yang sibuk dikantor. Toh saat mereka sibuk kerja kamu malah bisa reunian di cafe dengan teman kuliahmu yang juga sama-sama jadi IRT. It's oke, kamu akan tetap jadi dirimu terlepas apapun yang kamu jalani sekarang.

Intinya memang ga mudah menjalani sesuatu yang baru tapi bukan lantas menjadikan kita putus asa. Semangat buat aku dan buat para wanita diluar sana yang baru saja memutuskan jadi IRT. 

Komentar

Postingan Populer