Hidup Mapan
Suatu hari entah mengapa hampir semua perempuan dikantor saya, terutama yang sudah menjadi ibu rumah tangga, sibuk berbicara soal hidup mapan.
Masih tetap dengan pendapat klasik bahwa 'mapan' berarti punya rumah yang besar dan bagus, mobil bagus, uang banyak, bekerja diperusahaan besar, dll...
Gawatnya, sebagian besar dari mereka (entah serius atau tidak) merasa menyesal dengan lelaki pilihan mereka (suami , maksudnya).
"...K'lo masih muda sih mikirnya memang cinta. Tapi liat k'lo ntar punya anak, baru deh ngerasain banyak kebutuhan ini-itu. Baru deh nyesel, kenapa gue nikah sama dia?. Makanya cari suami sekalian yang kaya deh. Jangan liat wajahnya saja. Memang tampang ganteng bisa bikin perut kenyang?. Walaupun sudah berumur yang penting bisa menjamin masa depan. Tuh lihat si...” tiiiiit. Sensor karena menyebutkan nama salah satu teman yg menikah dengan pria kaya yang lebih pantas jadi ayahnya. Hihihi
Begitulah kira-kira pendapat mereka ketika menasihati saya. Karena mereka tahu pekerjaan kekasih saya hanya sebagai junior lawyer dan hanya berasal dari keluarga sederhana.
Bahkan, ada teman saya yang lain yang lebih keterlaluan lagi. Sambil memberi susu formula ke anaknya berkata "Duh nak, coba kalau bapak kamu kaya, banyak uang, pasti mama ga perlu susah-susah cari duit cuma untuk beliin kamu susu." Dueeengggg coba suaminya denger yeeee.
Keterlaluan, cuma gara-gara materi masak sampai menyesali pilihan hidup sih?
Usut punya usut, ternyata sebab musabab pembicaraan tersebut karena seorang teman kami tiba-tiba curhat mengenai kondisi finansial rumah tangganya yang sedang amburadul. Teman saya tersebut berpikir, kalau saja dulu ia menikah dengan pria yang sudah mapan pasti sekarang ia tidak akan sesusah ini. Padahal usia perkawinan mereka sudah 9 tahun dan dimata saya kondisi ekonomi mereka tidak ada masalah.
Saya sendiri tidak terlalu paham sejauh mana batas sebuah kemapanan? Dan apakah sebuah kemapanan bisa selalu disandingkan dengan kebahagiaan? Apakah dengan memiliki uang banyak, rumah besar, mobil bagus, suami memiliki karir cemerlang dan penghasilan besar, akan menjamin hidup jadi happily ever after?
Saya tidak tahu apakah pertanyaan yang ada dibenak saya ini wajar atau memang saya-nya yang terlalu naif? Siapa sih yang tidak ingin hidup mapan? Tapi pertanyaannya, apakah kalau saya ingin hidup mapan berarti harus mencari suami yang kaya raya? Tidak bisakah kemapanan itu diraih bersama antara saya dengan suami saya kelak?
Ibu saya sampai sekarang (alhamdulillah) tidak pernah menyesal menikah dengan bapak saya. Bahkan ucapan yang sering saya dengar adalah "Ibu beruntung menikah sama bapak. Walaupun bapak kerjanya cuma pegawai negri, gajinya kecil, tapi alhamdulillah anak-anak ibu masih bisa sekolah bahkan sampai kuliah. Yang penting sampai saat ini semua sehat. Karena itu berarti uang yang dihasilkan bapak itu benar-benar berkah."
Dusss,itu maksud saya...BERKAH. Untuk apa punya suami kaya dan berpenghasilan besar tapi ternyata uang yang dihasilkan tidak berkah dan tidak ada manfaatnya buat keluarga?. Atau misalnya, punya banyak harta tapi tidak bahagia dan tidak memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi dalam diri.
Mungkin faktor latar belakang keluarga yang akhirnya turut mempengaruhi cara pandang saya mengenai 'kemapanan'. Menurut saya, tolok ukur sebuah kemapanan jangan hanya dilihat dari segi materi saja melainkan juga dari kedewasaan sikap dalam menjalani dan mengatasi segala problema hidup.
Bukannya bermaksud merendahkan atau menjelek-jelekan kaum hawa yang memiliki cita-cita untuk hidup mapan semapan-mapannya. Tapi bagi saya pribadi, yang saya inginkan adalah hidup bahagia dan bisa membahagiakan orang lain. Begitupula soal pendamping hidup. Saya tidak berharap punya suami kaya. Tapi yang penting suami yang menjunjung tinggi hak-hak istri. Masalah materi adalah tanggung jawab bersama. Dicari sama-sama untuk kemudian dinikmati bersama.
Salam hangat.
Masih tetap dengan pendapat klasik bahwa 'mapan' berarti punya rumah yang besar dan bagus, mobil bagus, uang banyak, bekerja diperusahaan besar, dll...
Gawatnya, sebagian besar dari mereka (entah serius atau tidak) merasa menyesal dengan lelaki pilihan mereka (suami , maksudnya).
"...K'lo masih muda sih mikirnya memang cinta. Tapi liat k'lo ntar punya anak, baru deh ngerasain banyak kebutuhan ini-itu. Baru deh nyesel, kenapa gue nikah sama dia?. Makanya cari suami sekalian yang kaya deh. Jangan liat wajahnya saja. Memang tampang ganteng bisa bikin perut kenyang?. Walaupun sudah berumur yang penting bisa menjamin masa depan. Tuh lihat si...” tiiiiit. Sensor karena menyebutkan nama salah satu teman yg menikah dengan pria kaya yang lebih pantas jadi ayahnya. Hihihi
Begitulah kira-kira pendapat mereka ketika menasihati saya. Karena mereka tahu pekerjaan kekasih saya hanya sebagai junior lawyer dan hanya berasal dari keluarga sederhana.
Bahkan, ada teman saya yang lain yang lebih keterlaluan lagi. Sambil memberi susu formula ke anaknya berkata "Duh nak, coba kalau bapak kamu kaya, banyak uang, pasti mama ga perlu susah-susah cari duit cuma untuk beliin kamu susu." Dueeengggg coba suaminya denger yeeee.
Keterlaluan, cuma gara-gara materi masak sampai menyesali pilihan hidup sih?
Usut punya usut, ternyata sebab musabab pembicaraan tersebut karena seorang teman kami tiba-tiba curhat mengenai kondisi finansial rumah tangganya yang sedang amburadul. Teman saya tersebut berpikir, kalau saja dulu ia menikah dengan pria yang sudah mapan pasti sekarang ia tidak akan sesusah ini. Padahal usia perkawinan mereka sudah 9 tahun dan dimata saya kondisi ekonomi mereka tidak ada masalah.
Saya sendiri tidak terlalu paham sejauh mana batas sebuah kemapanan? Dan apakah sebuah kemapanan bisa selalu disandingkan dengan kebahagiaan? Apakah dengan memiliki uang banyak, rumah besar, mobil bagus, suami memiliki karir cemerlang dan penghasilan besar, akan menjamin hidup jadi happily ever after?
Saya tidak tahu apakah pertanyaan yang ada dibenak saya ini wajar atau memang saya-nya yang terlalu naif? Siapa sih yang tidak ingin hidup mapan? Tapi pertanyaannya, apakah kalau saya ingin hidup mapan berarti harus mencari suami yang kaya raya? Tidak bisakah kemapanan itu diraih bersama antara saya dengan suami saya kelak?
Ibu saya sampai sekarang (alhamdulillah) tidak pernah menyesal menikah dengan bapak saya. Bahkan ucapan yang sering saya dengar adalah "Ibu beruntung menikah sama bapak. Walaupun bapak kerjanya cuma pegawai negri, gajinya kecil, tapi alhamdulillah anak-anak ibu masih bisa sekolah bahkan sampai kuliah. Yang penting sampai saat ini semua sehat. Karena itu berarti uang yang dihasilkan bapak itu benar-benar berkah."
Dusss,itu maksud saya...BERKAH. Untuk apa punya suami kaya dan berpenghasilan besar tapi ternyata uang yang dihasilkan tidak berkah dan tidak ada manfaatnya buat keluarga?. Atau misalnya, punya banyak harta tapi tidak bahagia dan tidak memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi dalam diri.
Mungkin faktor latar belakang keluarga yang akhirnya turut mempengaruhi cara pandang saya mengenai 'kemapanan'. Menurut saya, tolok ukur sebuah kemapanan jangan hanya dilihat dari segi materi saja melainkan juga dari kedewasaan sikap dalam menjalani dan mengatasi segala problema hidup.
Bukannya bermaksud merendahkan atau menjelek-jelekan kaum hawa yang memiliki cita-cita untuk hidup mapan semapan-mapannya. Tapi bagi saya pribadi, yang saya inginkan adalah hidup bahagia dan bisa membahagiakan orang lain. Begitupula soal pendamping hidup. Saya tidak berharap punya suami kaya. Tapi yang penting suami yang menjunjung tinggi hak-hak istri. Masalah materi adalah tanggung jawab bersama. Dicari sama-sama untuk kemudian dinikmati bersama.
Salam hangat.
Komentar