Menjelang Pensiun Bapak
Rabu, 16 Januari 2008. Saya tidak sengaja membaca selembar surat yang ditujukan untuk bapak saya. Kop suratnya bertuliskan Departemen Kehakiman dan HAM RI. Isi suratnya memberitahukan bahwa "Sdr....(Bapak saya, red) yang lahir pada tgl 22 Juni 1953 dengan ini akan diberhentikan dengan hormat pada tahun 2009 mengingat ybs sudah memasuki masa pensiun.
Kalimat demi kalimat saya baca sampai akhirnya tertera ucapan terima kasih atas dedikasi Bapak saya selamamengemban tugas sebagai PNS golongan IIIA di instansi tsb.
Sedih, terharu & bangga, semua campur aduk.Sedih...karena itu berarti Bapak ga akan kerja lagi. Ga kerja lagi berarti penghasilan berkurang. Karena jika sudah pensiun berarti tidak ada lagi tunjangan jabatan, dll.Takut Bapak jd loyo karena sudah tdk ada lagi kegiatan.Terharu & Bangga...karena bapak saya telah menyelesaikan karirnya selama 35 tahun dengan mulus. Mulus bukan berarti tanpa masalah tetapi mulus dalam arti Bapak saya ga pernah bikin masalah.
Yah, Bapak memang ga pernah mau cari masalah. Selama ini Bapak cuma jd seorang Sipir di LP Cipinang. Bapak melakukan pekerjaannya dengan hati-hati, ga mau 'sabet sana-sini'. Padahal banyak teman Bapak yang kena punishment. Macam-macam kasusnya. Dari mulai membantu Edi Tanzil kabur, jd kurir narkoba dan yang terakhir adalah membantu Gunawan Santosa kabur. Kenapa mereka begitu? Karena mereka kurang hati-hati, rakus, dsb-nya. Baru diberi uang ala kadarnya sudah gelap mata.
Kerja tuh harus jujur. Itulah yang sering ditanamkan Bapak pada anak buahnya di kantor dan juga anak-anaknya dirumah. Bapak yang suka kejujuran Bapak. Tp banyak pula yang mencibir.Saya ingat, suatu waktu ketika dinas malam, saat bapak sedang patroli kesetiap sel tiba2 Bapak memergoki seorang napi yang sedang menghisap shabu-shabu. Tanpa tedeng aling-aling Bapak menyeret napi itu dan membawanya ke pos beserta barang bukti. Napi itu 'habis' di gebuki Bapak karena tidak mau mengaku. Saat itu juga Bapak segera melapor ke Kepala Lapas. Banyak yang mengacungi jempol untuk keberanian dan kejujuran Bapak. Tp banyak jg yg skeptis. Bahkan menyalahkan langkah Bapak. Mereka bilang seharusnya kasus spt itu'diduitkan' saja. Tp Bapak ga peduli. Bapak merasa tindakannya benar. Dan dia melakukan nya tulus karena tugas dan tanggung jawab moral. Walhasil ketika masa kerjanya mencapai 25 tahun dan juga atas dasar dedikasi Bapak, dalam suatu upacara rutin dikantor Bapak dipanggil kedepan untuk menerima penghargaan bintang dan medali yg kalau tidak salah namanya Karya Satya serta sebuah piagam penghargaan yang dibubuhi tanda tangan Presiden RI Abdurrahman Wahid kala itu.
Sebentar lagi Bapak akan pensiun.
Tidak ada mobil pribadi dan rumah mewah karena memang selama 35 tahun berkarir penghasilan Bapak habis untuk biaya hidup dan sekolah anak-anaknya. Saya sebagai sulung mengalami saat dimana gaji Bapak masih 300rb perbulan itu pun masih dipotong utang koperasi, hingga sekarang gaji bersih Bapak -+2,7jt. Bayangkan, perlu waktu 35 tahun untuk punya gaji sebesar itu. Sedangkan saya hanya butuh waktu 1tahun.
Bapak yang tegar, hanya bisa berpesan "Biarlah kita seperti ini. Bapak kerja jujur dan apa adanya. Karena Bapak mau nanti bisa pensiun dengan tenang"
Bapak benar. Dia tidak ingin nasibnya seperti mantan-mantan pejabat yang ada di TV. Saat tua, rambut memutih dan tubuh mulai renta, malah sibuk diboyong sana-sini, keluar masuk kejaksaan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya selama masih berkarir. Maka hiduplah keluarga kami seperti ini, sederhana, apa adanya dan tanpa beban. Semoga Bapak bisa menjalani hari-hari menjelang pensiunnya dengan memberikan lebih lagi manfaat bagi orang banyak.
Kalimat demi kalimat saya baca sampai akhirnya tertera ucapan terima kasih atas dedikasi Bapak saya selamamengemban tugas sebagai PNS golongan IIIA di instansi tsb.
Sedih, terharu & bangga, semua campur aduk.Sedih...karena itu berarti Bapak ga akan kerja lagi. Ga kerja lagi berarti penghasilan berkurang. Karena jika sudah pensiun berarti tidak ada lagi tunjangan jabatan, dll.Takut Bapak jd loyo karena sudah tdk ada lagi kegiatan.Terharu & Bangga...karena bapak saya telah menyelesaikan karirnya selama 35 tahun dengan mulus. Mulus bukan berarti tanpa masalah tetapi mulus dalam arti Bapak saya ga pernah bikin masalah.
Yah, Bapak memang ga pernah mau cari masalah. Selama ini Bapak cuma jd seorang Sipir di LP Cipinang. Bapak melakukan pekerjaannya dengan hati-hati, ga mau 'sabet sana-sini'. Padahal banyak teman Bapak yang kena punishment. Macam-macam kasusnya. Dari mulai membantu Edi Tanzil kabur, jd kurir narkoba dan yang terakhir adalah membantu Gunawan Santosa kabur. Kenapa mereka begitu? Karena mereka kurang hati-hati, rakus, dsb-nya. Baru diberi uang ala kadarnya sudah gelap mata.
Kerja tuh harus jujur. Itulah yang sering ditanamkan Bapak pada anak buahnya di kantor dan juga anak-anaknya dirumah. Bapak yang suka kejujuran Bapak. Tp banyak pula yang mencibir.Saya ingat, suatu waktu ketika dinas malam, saat bapak sedang patroli kesetiap sel tiba2 Bapak memergoki seorang napi yang sedang menghisap shabu-shabu. Tanpa tedeng aling-aling Bapak menyeret napi itu dan membawanya ke pos beserta barang bukti. Napi itu 'habis' di gebuki Bapak karena tidak mau mengaku. Saat itu juga Bapak segera melapor ke Kepala Lapas. Banyak yang mengacungi jempol untuk keberanian dan kejujuran Bapak. Tp banyak jg yg skeptis. Bahkan menyalahkan langkah Bapak. Mereka bilang seharusnya kasus spt itu'diduitkan' saja. Tp Bapak ga peduli. Bapak merasa tindakannya benar. Dan dia melakukan nya tulus karena tugas dan tanggung jawab moral. Walhasil ketika masa kerjanya mencapai 25 tahun dan juga atas dasar dedikasi Bapak, dalam suatu upacara rutin dikantor Bapak dipanggil kedepan untuk menerima penghargaan bintang dan medali yg kalau tidak salah namanya Karya Satya serta sebuah piagam penghargaan yang dibubuhi tanda tangan Presiden RI Abdurrahman Wahid kala itu.
Sebentar lagi Bapak akan pensiun.
Tidak ada mobil pribadi dan rumah mewah karena memang selama 35 tahun berkarir penghasilan Bapak habis untuk biaya hidup dan sekolah anak-anaknya. Saya sebagai sulung mengalami saat dimana gaji Bapak masih 300rb perbulan itu pun masih dipotong utang koperasi, hingga sekarang gaji bersih Bapak -+2,7jt. Bayangkan, perlu waktu 35 tahun untuk punya gaji sebesar itu. Sedangkan saya hanya butuh waktu 1tahun.
Bapak yang tegar, hanya bisa berpesan "Biarlah kita seperti ini. Bapak kerja jujur dan apa adanya. Karena Bapak mau nanti bisa pensiun dengan tenang"
Bapak benar. Dia tidak ingin nasibnya seperti mantan-mantan pejabat yang ada di TV. Saat tua, rambut memutih dan tubuh mulai renta, malah sibuk diboyong sana-sini, keluar masuk kejaksaan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya selama masih berkarir. Maka hiduplah keluarga kami seperti ini, sederhana, apa adanya dan tanpa beban. Semoga Bapak bisa menjalani hari-hari menjelang pensiunnya dengan memberikan lebih lagi manfaat bagi orang banyak.
Komentar