Seorang Bapak Tukang Timbang Berat Badan
Siang tadi akhirnya saya dan rekan saya memutuskan untuk makan di resto bakmi yg ada di seberang kantor. Saat perjalanan pulang kami melaihat seorang bapak tua berjalan didepan kami membawa sebuah timbangan badan.
"Ga nyangka hari gini masih ada ya profesi tukang timbangan keliling seperti ini" Batin saya. Bahkan pernah juga loh saya temui tukang tensi tekanan darah keliling.
Berawal dari rasa kasihan, saya dan rekan saya menghampiri si Bapak tukang timbangan dan mengatakan kalau kami ingin timbang berat badan. Si Bapak dengan senang hati mengikuti kami berjalan menuju kantor. Sesampainya dikantor kami pun menimbang dan diikuti rekan-rekan yang lain.
Oke, saya tidak perlu menyebutkan berapa berat saya ya. Ga penting juga dishare hehee
Setelah selesai, kami bertanya berapa tarif yang harus kami bayar. Si Bapak hanya tersenyum lebar menunjukkan giginya yang sudah tidak lengkap.
"Terserah Eneng ajah" kata si Bapak."Yah kok terserah saya?" protes saya. Si Bapak malah tersenyum lagi.
Saya mengeluarkan selembar uang 20.000 dan langsung mengenggamkannya ke tangan si Bapak. Rekan saya pun melakukan hal yang sama, hanya saja nominalnya lebih besar lagi. Si Bapak terlihat kaget dan matanya tampak berkaca-kaca. Kemudian beliau komat-kamit mendoakan kami sambil menepuk bahu kami. Hiks jadi terharu.
Si Bapak kemudian pamit pergi. Saya terus memperhatikan tubuh tua renta si Bapak yang semakin menjauh di tengah terik matahari. Membayangkan beban hidup yang harus dia pikul dalam usia yang sudah renta. Terbersit rasa salut. Karena si Bapak memilih untuk melakoni pekerjaan yang mungkin buat kita tidak ada apa-apanya, tapi berarti buat beliau dan keluarganya. Daripada saya minta-minta, dik. Begitu katanya.
Sehat-sehat ya pak.
"Ga nyangka hari gini masih ada ya profesi tukang timbangan keliling seperti ini" Batin saya. Bahkan pernah juga loh saya temui tukang tensi tekanan darah keliling.
Berawal dari rasa kasihan, saya dan rekan saya menghampiri si Bapak tukang timbangan dan mengatakan kalau kami ingin timbang berat badan. Si Bapak dengan senang hati mengikuti kami berjalan menuju kantor. Sesampainya dikantor kami pun menimbang dan diikuti rekan-rekan yang lain.
Oke, saya tidak perlu menyebutkan berapa berat saya ya. Ga penting juga dishare hehee
Setelah selesai, kami bertanya berapa tarif yang harus kami bayar. Si Bapak hanya tersenyum lebar menunjukkan giginya yang sudah tidak lengkap.
"Terserah Eneng ajah" kata si Bapak."Yah kok terserah saya?" protes saya. Si Bapak malah tersenyum lagi.
Saya mengeluarkan selembar uang 20.000 dan langsung mengenggamkannya ke tangan si Bapak. Rekan saya pun melakukan hal yang sama, hanya saja nominalnya lebih besar lagi. Si Bapak terlihat kaget dan matanya tampak berkaca-kaca. Kemudian beliau komat-kamit mendoakan kami sambil menepuk bahu kami. Hiks jadi terharu.
Si Bapak kemudian pamit pergi. Saya terus memperhatikan tubuh tua renta si Bapak yang semakin menjauh di tengah terik matahari. Membayangkan beban hidup yang harus dia pikul dalam usia yang sudah renta. Terbersit rasa salut. Karena si Bapak memilih untuk melakoni pekerjaan yang mungkin buat kita tidak ada apa-apanya, tapi berarti buat beliau dan keluarganya. Daripada saya minta-minta, dik. Begitu katanya.
Sehat-sehat ya pak.
Komentar