Pelajaran moral dari seorang ibu
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 Hijriah,
Taqabalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum .
Bagaimana liburan lebarannya? seru? bete? capek? hahaaaa walaupun lebaran sudah lewat tapi ternyata teman-teman saya diluar sana masih banyak yang musti ng-inem ato ng-inah dirumah. Maka saya mau menyemangati kalian-kalian diluar sana para ibu-ibu hebat diluar sana ... Cemunguuuudh.
Oya saya mau cerita sedikit tentang perjalanan saya menuju Sukabumi, kampung halaman suami saya. Kami berangkat hari kedua lebaran. Demi menghindari macet kami memutuskan naik kereta api. Dari Stasiun Manggarai kami naik Commuter Line menuju Stasiun Bogor. Sampai di Stasiun Bogor kami menyebrang ke Stasiun Paledang menuju Stasiun Sukabumi.
Well, saya ga akan cerita bagaimana liburan saya disana, tapi saya akan cerita pengalaman saya saat perjalanan naik CL.
Saya masuk gerbong wanita dengan menggendong Dastan 9mo menggunakan baby carrier dan menggandeng Daffa 3y 9mo (emak-emak banget ya?). Suami masuk ke gerbong umum bersama barang-barang kami yang segambreng.
Kondisi gerbong wanita saat itu penuh. Lirik sana-sini tidak ada kursi kosong. Bahkan kursi prioritas pun sudah penuh dengan ibu-ibu usia lanjut dan ibu-ibu yang memangku. Sadar dengan kondisi tersebut, saya sendiri tidak berharap banyak akan diberikan tempat duduk. Saya dan anak-anak mengambil posisi berdiri di pojok dekat tiang.
Seorang petugas menghmapiri kami dan meminta kami mengikutinya untuk dicarikan tempat duduk. Awalnya saya tolak karena malas kalau harus jalan-jalan lagi. Tapi petugas tersebut bersikeras bahwa saya harus duduk.
Tidak jauh dari posisi saya sebelumnya, petugas meminta seorang perempuan ABG untuk berdiri. Perempuan itu terlihat agak keberatan diminta berdiri. Tiba-tiba seorang ibu yang duduk disampingnya (sepertinya sih ibu perempuan ABG itu) bilang "Mas cari tempat yang lain aja, jangan yang disini. Sama-sama bayar kok" .
Wow, saya cukup terkejut dengan reaksi si ibu. Rasanya pengen nyolek si Ibu trus bilang "Santai kelleeeus." hahaaaa.
Ya ampun,, moral macam apa yang sedang Anda ajarkan kepada anak Anda wahai ibu? Apakah rasa empati anda skip dari pelajaran moral yang Anda berikan pada anak Anda? Apakah tidak terpikir suatu saat anak gadis Anda yang sedang ranum,-ranumnya ini, mengalami hal yang sama seperti saya? Atau bagimana kalau Anda sendiri yang mengalami hal yang sama seperti saya?
Saya cuma bisa mengurut dada. Saya pun mencoba berkaca pada diri saya sendiri dan bertanya "Sudahkah saya memberikan dan mencontohkan moral yang baik kepada anak-anak saya?" Mungkin saya pernah lupa, pernah khilaf sehingga Tuhan mengingatkan saya melalui si Ibu tadi.
Saya seringkali mendengar istilah yang mengatakan seorang anak terlahir ibarat kertas putih yang belum terisi apa-apa. Kedepannya ingin kertas tersebut terisi dengan tulisan indah dan dengan kalimat-kalimat yang baik atau sebaliknya terisi tulisan yang jelek dan dengan kalimat yang buruk, semua tergantung kita. Tergantung dengan tinta seperti apa kita menulis, bagaimana kita menulis dan seperti apa kalimat yang kita tulis.
Saya sadar, sebagai orang tua tidaklah mudah menjadi contoh yang baik bagi anak-anak. Untuk itu saya selalu haus untuk belajar. Belajar untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak.
Ending dari kejadian di kereta tadi, Alhamdulillah tidak jauh dari situ seorang ibu muda memberikan tempat duduknya kepada saya dan anak saya.
Sekian, salam hangat :)
Taqabalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum .
Bagaimana liburan lebarannya? seru? bete? capek? hahaaaa walaupun lebaran sudah lewat tapi ternyata teman-teman saya diluar sana masih banyak yang musti ng-inem ato ng-inah dirumah. Maka saya mau menyemangati kalian-kalian diluar sana para ibu-ibu hebat diluar sana ... Cemunguuuudh.
Oya saya mau cerita sedikit tentang perjalanan saya menuju Sukabumi, kampung halaman suami saya. Kami berangkat hari kedua lebaran. Demi menghindari macet kami memutuskan naik kereta api. Dari Stasiun Manggarai kami naik Commuter Line menuju Stasiun Bogor. Sampai di Stasiun Bogor kami menyebrang ke Stasiun Paledang menuju Stasiun Sukabumi.
Well, saya ga akan cerita bagaimana liburan saya disana, tapi saya akan cerita pengalaman saya saat perjalanan naik CL.
Saya masuk gerbong wanita dengan menggendong Dastan 9mo menggunakan baby carrier dan menggandeng Daffa 3y 9mo (emak-emak banget ya?). Suami masuk ke gerbong umum bersama barang-barang kami yang segambreng.
Kondisi gerbong wanita saat itu penuh. Lirik sana-sini tidak ada kursi kosong. Bahkan kursi prioritas pun sudah penuh dengan ibu-ibu usia lanjut dan ibu-ibu yang memangku. Sadar dengan kondisi tersebut, saya sendiri tidak berharap banyak akan diberikan tempat duduk. Saya dan anak-anak mengambil posisi berdiri di pojok dekat tiang.
Seorang petugas menghmapiri kami dan meminta kami mengikutinya untuk dicarikan tempat duduk. Awalnya saya tolak karena malas kalau harus jalan-jalan lagi. Tapi petugas tersebut bersikeras bahwa saya harus duduk.
Tidak jauh dari posisi saya sebelumnya, petugas meminta seorang perempuan ABG untuk berdiri. Perempuan itu terlihat agak keberatan diminta berdiri. Tiba-tiba seorang ibu yang duduk disampingnya (sepertinya sih ibu perempuan ABG itu) bilang "Mas cari tempat yang lain aja, jangan yang disini. Sama-sama bayar kok" .
Wow, saya cukup terkejut dengan reaksi si ibu. Rasanya pengen nyolek si Ibu trus bilang "Santai kelleeeus." hahaaaa.
Ya ampun,, moral macam apa yang sedang Anda ajarkan kepada anak Anda wahai ibu? Apakah rasa empati anda skip dari pelajaran moral yang Anda berikan pada anak Anda? Apakah tidak terpikir suatu saat anak gadis Anda yang sedang ranum,-ranumnya ini, mengalami hal yang sama seperti saya? Atau bagimana kalau Anda sendiri yang mengalami hal yang sama seperti saya?
Saya cuma bisa mengurut dada. Saya pun mencoba berkaca pada diri saya sendiri dan bertanya "Sudahkah saya memberikan dan mencontohkan moral yang baik kepada anak-anak saya?" Mungkin saya pernah lupa, pernah khilaf sehingga Tuhan mengingatkan saya melalui si Ibu tadi.
Saya seringkali mendengar istilah yang mengatakan seorang anak terlahir ibarat kertas putih yang belum terisi apa-apa. Kedepannya ingin kertas tersebut terisi dengan tulisan indah dan dengan kalimat-kalimat yang baik atau sebaliknya terisi tulisan yang jelek dan dengan kalimat yang buruk, semua tergantung kita. Tergantung dengan tinta seperti apa kita menulis, bagaimana kita menulis dan seperti apa kalimat yang kita tulis.
Saya sadar, sebagai orang tua tidaklah mudah menjadi contoh yang baik bagi anak-anak. Untuk itu saya selalu haus untuk belajar. Belajar untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak.
Ending dari kejadian di kereta tadi, Alhamdulillah tidak jauh dari situ seorang ibu muda memberikan tempat duduknya kepada saya dan anak saya.
Sekian, salam hangat :)
Komentar